HomeBisnisInvestor global meninggalkan Indonesia, kebijakan ekonomi Prabow menimbulkan kekhawatiran

BisnisAds.com– SINGAPURA. Kepercayaan investor terhadap Indonesia menurun di tengah melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Sejak menjabat pada tahun 2024, pemerintahan Prabowo dikabarkan telah menerapkan kebijakan ekonomi yang agresif, namun dinilai kurang konsisten. Salah satu program besar yang dicanangkan adalah pemberian makan gratis kepada jutaan pelajar, serta upaya merangsang pertumbuhan ekonomi melalui pelonggaran disiplin fiskal yang telah dipertahankan selama bertahun-tahun.

Namun sejumlah langkah kebijakan yang dinilai tidak lazim justru menyebabkan ketidakstabilan di pasar keuangan. Diantaranya adalah sentralisasi ekspor komoditas melalui dana kekayaan negara yang besar bernama Danantara, serta rencana memberikan mandat pertumbuhan ekonomi kepada bank sentral yang dianggap mengancam independensi bank sentral.

Tekanan juga datang dari faktor eksternal, termasuk fluktuasi harga energi global. Kondisi ini membuat Indonesia yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu negara emerging market paling menjanjikan, kini mengalami penurunan sentimen investor.

Nilai tukar rupee menjadi fokus utama. Mata uang tersebut telah melemah lebih dari 8% sepanjang tahun ini dan menyentuh level terendah baru di sekitar Rp18.190 per dolar AS. Pelemahan ini disinyalir bukan hanya disebabkan oleh pasar, tetapi juga memperburuk kondisi perekonomian karena menyebabkan arus keluar modal lebih lanjut.

Bank sentral, Bank Indonesia, menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan Mei dan menghabiskan sekitar $12 miliar cadangan devisa untuk membendung melemahnya rupiah. Namun, tekanan terus berlanjut.

Investor asing pun terus menarik dananya dari pasar Indonesia. Arus keluar pasar saham berjumlah sekitar US$3,2 miliar pada akhir bulan Mei, yang terbesar sejak tahun 2009. Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah juga turun tajam ke level terendah dalam hampir dua dekade.

Lembaga pemeringkat internasional pun memberikan tanda peringatan. Moody’s dan Fitch Ratings menurunkan prospek kredit Indonesia menjadi negatif, dengan alasan penurunan kredibilitas kebijakan. Sementara itu, S&P Global Ratings menyatakan peringkat Indonesia akan bergantung pada upaya memperkuat ruang fiskal.

Di sisi lain, penyedia indeks MSCI juga mengkaji isu transparansi dan perdagangan saham Indonesia, meski penurunan peringkat dinilai masih belum pasti.

Jika terjadi penurunan peringkat, investor besar berpotensi terpaksa menjual asetnya, sehingga memperburuk tekanan pasar.

Investor juga menyoroti sejumlah keputusan kebijakan baru-baru ini, termasuk revisi undang-undang yang memberikan wewenang lebih besar kepada parlemen untuk mengatur bank sentral dan menambahkan target pertumbuhan sektor riil ke dalam mandatnya. Hal ini diyakini dapat melemahkan independensi kebijakan moneter.

Selain itu, pengangkatan anggota keluarga presiden ke posisi penting di bank sentral dan pengambilalihan ekspor komoditas oleh negara melalui Danantara semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap transparansi kebijakan.

Banyak investor percaya bahwa situasi ini menciptakan “lingkaran setan”: melemahnya mata uang memicu arus keluar modal, yang kemudian melemahkan perekonomian dan mengikis kepercayaan pasar.

Para fund manager global memperkirakan tekanan terhadap perekonomian Indonesia akan terus berlanjut tanpa adanya perubahan arah kebijakan yang jelas. Beberapa investor bahkan sudah mulai mengurangi eksposurnya terhadap aset-aset Indonesia.

Namun, sejumlah analis masih berpendapat bahwa pemulihan masih mungkin terjadi jika pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan untuk memulihkan kepercayaan pasar dan memperkuat disiplin fiskal serta independensi lembaga perekonomian.

Secara keseluruhan, Indonesia saat ini dianggap berada di bawah tekanan tinggi di pasar keuangan global, dengan kombinasi pelemahan mata uang, arus keluar modal dan meningkatnya risiko politik yang menjadi kekhawatiran utama bagi investor.

tagBisnis

Related Post

Scroll to Top