BisnisAds.com – JAKARTA. Di tengah meningkatnya kebutuhan global akan mineral-mineral penting untuk mendukung transisi energi dan industri kendaraan listrik, isu keberlanjutan dalam rantai pasokan nikel menjadi sorotan. Pelaku industri, investor, dan regulator kini tidak hanya memperhatikan kapasitas produksi, namun juga aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Dalam konteks ini, Maluku Utara semakin menegaskan perannya sebagai salah satu pusat hilir nikel terintegrasi dunia. Hal ini terlihat pada pelaksanaan Sustainability Tour Maluku Utara yang diselenggarakan oleh komite bilateral Kamar Dagang Inggris-Irlandia bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).
Kegiatan ini mempertemukan organisasi internasional, pelaku industri, investor, akademisi, dan pengambil kebijakan untuk meninjau langsung perkembangan ekosistem hilir nikel di Maluku Utara sekaligus membahas praktik hilirisasi berkelanjutan.
Berdasarkan data US Geological Survey (USGS), Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia pada tahun 2026 yaitu sebesar 62 juta ton atau sekitar 44,3% cadangan dunia. Sekitar 90% cadangan ini berada di Sulawesi dan Maluku Utara.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah masih ditopang oleh industri hilir, khususnya nikel.
“Tahun lalu, perekonomian Maluku Utara tumbuh sekitar 34% year-on-year, mencapai 19,64% pada kuartal I 2026, tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa bisnis hilir telah memberikan nilai tambah yang nyata bagi daerah,” ujarnya, Rabu (3/6).
Sherly menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memperkuat pengawasan lingkungan hidup, transparansi, dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan industri.
“Dalam waktu sekitar 50 tahun, Maluku Utara seharusnya tidak hanya dikenal karena nikel yang diambil dari tanahnya, tetapi juga karena nilai yang berhasil kami wariskan kepada masyarakatnya,” ujarnya.
Perwakilan Komite Bilateral Kadin Inggris dan Irlandia serta Direktur BYD Haka Auto Ahmad Fikri Susanto menilai transparansi dan manajemen rantai pasokan kini menjadi perhatian utama investor global.
“Investor dan pembeli global kini ingin melihat lebih dari sekedar volume produksi. Mereka ingin memahami bagaimana rantai pasokan dikelola, bagaimana lingkungan dilindungi dan bagaimana masyarakat berbagi manfaat dari pembangunan,” ujarnya.
untuk sementara, Wakil Presiden Urusan Internasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Bernardino Vega, mengatakan standar ESG kini semakin mempengaruhi keputusan investasi di sektor mineral.
Direktur Utama PT IWIP, Kevin He menambahkan, pertumbuhan industri harus dibarengi dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
“Meningkatnya investasi di kawasan ini tidak hanya berkontribusi pada program industrialisasi Indonesia, tetapi juga mendukung upaya global untuk membangun sistem energi yang lebih bersih. Namun, kami juga memahami bahwa pertumbuhan industri membawa tanggung jawab yang besar,” kata Kevin. Saat ini sekitar 85% tenaga kerja di wilayah IWIP berasal dari Maluku Utara.