HomeBisnisMelihat kuatnya pengaruh Beijing terhadap perekonomian Indonesia

BisnisAds.com – JAKARTA. Beredar di media sosial, surat yang diduga berasal dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) China kepada Presiden Prabowo mempertemukan tiga menteri kabinet Indonesia untuk bertemu dengan investor asal China.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dan Menteri Investasi Rosan Roeslani menggelar rapat koordinasi dengan puluhan investor asal China menyusul keluhan yang disampaikan investor asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

Investor dari Tiongkok menyuarakan protesnya atas memburuknya iklim investasi di Indonesia, khususnya ketidakpastian dunia usaha akibat perubahan kebijakan, pemotongan kuota nikel, kenaikan pajak royalti, dan bahkan praktik pemerasan. Keluhan ini disusul dengan keputusan untuk menunda kenaikan biaya penambangan.

Di tengah upaya pemerintah membangun landasan pendapatan negara dari sektor sumber daya alam, keputusan penundaan kenaikan royalti pertambangan memberi sinyal bahwa pemerintah sangat berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan Tiongkok. Apalagi, tak lama setelah surat Kadin muncul, para menteri sudah melakukan pertemuan langsung dengan China.

Posisi Tiongkok sebagai investor, khususnya dalam hal perdagangan, investasi, dan rantai pasok industri, sangat dekat dan dalam dengan Indonesia dalam satu dekade terakhir.

Mengintip eratnya hubungan Indonesia dan Tiongkok, Tiongkok akan menjadi pasar utama ekspor barang nonmigas Indonesia senilai USD 46,47 miliar pada tahun 2025. Ekspor ke Tiongkok didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, dan produk nikel.

Tiongkok sebagai mitra investasi utama bagi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga terlihat dari pengetahuan investasinya yang mencapai 34,3 miliar USD pada tahun 2021 hingga 2025.

Data Kementerian Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal/Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan nilai investasi di China sebesar US$2,2 miliar pada kuartal I-2026, meningkat 22%. dari tahun ke tahun (secara tahunan) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa selama periode Januari-September 2025, Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia senilai US$62,07 miliar (40,68%), disusul Jepang sebesar US$11,01 miliar (7,22%) dan Amerika Serikat sebesar US$7,33 miliar (4,81%).

Impor dari Tiongkok juga didominasi oleh mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Tiongkok kini menjadi pemain penting dalam produksi mineral, produksi logam dasar, kendaraan listrik, dan pengembangan kawasan industri di Indonesia.

Masuk untuk melanjutkan proses berlangganan

tagBisnis

Related Post

Scroll to Top