BisnisAds.com – JAKARTA. PT Bank Danamon Indonesia Tbk telah melakukan penyesuaian rencana bisnis bank (RBB) tahun 2026 sejalan dengan perubahan kondisi perekonomian dan geopolitik global. Meski demikian, bank tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit pada kisaran tersebut rendah dua digit tahun ini.
Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya mengatakan revisi RBB merupakan hal yang wajar untuk menyesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar yang tidak diperkirakan saat rencana bisnis disusun.
“Kalau RBB pasti ada revisi karena menyesuaikan dengan kondisi pasar. Ketika RBB dibuat tahun lalu, tentu kita tidak bisa memprediksi akan terjadi perang antara Amerika dan Iran misalnya. Jadi ada penyesuaian kecil-kecilan,” kata Ivan saat ditemui, Selasa (14/7/2026).
Di tengah perubahan tersebut, dia mengatakan pihaknya berupaya memanfaatkan peluang dengan meningkatkan iuran berdasarkan komisi atau pendapatan pendapatan berbasis biaya.
Pasalnya, sejumlah lini bisnis mencatatkan pertumbuhan positif secara tahunan. Ivan menemukan bahwa transaksi valuta asing (valas) tumbuh sekitar 35%, bancassurance naik hampir 30%, sementara penjualan produk investasi seperti reksa dana dan obligasi terus mengalami pertumbuhan dua digit meskipun kondisi pasar berfluktuasi.
“Kami berupaya meningkatkan pendapatan berdasarkan kompensasi dibandingkan tahun sebelumnya dan memanfaatkan peluang yang ada dengan menyesuaikan kondisi pasar,” ujarnya.
Di sisi perantara, hingga Maret 2026, kredit Danamon, termasuk pembiayaan perdagangan, tumbuh sekitar 9% setiap tahunnya menjadi Rp 216 triliun. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat sekitar 16% menjadi Rp 176 triliun.
Selama tahun 2026, Danamon tetap optimis tingkat pertumbuhan akan terus sejalan dengan pencapaian masa lalu. Ivan mengatakan, pihaknya masih menargetkan pertumbuhan kredit pada kisaran 10% hingga 15%.
“Dua digit rendah “Tujuan kami selalu pertumbuhan pinjaman, antara 10% dan 15%, dan pertumbuhan dana akan mengikuti,” pungkas Ivan.