HomeBisnisPeringkat utang Indonesia aman, namun S&P menyoroti risiko tersebut

BisnisAds.com – JAKARTA. S&P Global Ratings (S&P) kembali mempertahankan peringkat utangnya (peringkat kredit negara) Indonesia pada level BBB dan jangka pendek A-2.

Namun menurutnya, penjelasan S&P menunjukkan lembaga pemeringkat tersebut masih cukup pesimistis terhadap prospek perekonomian Indonesia. Hal ini tercermin dari proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga tahun 2029 yang diperkirakan berada di bawah 5%, jauh dari target yang mendekati 8%.

Selain itu, S&P juga menerbitkan sejumlah catatan terkait posisi utang pemerintah dan beban bunga utang terhadap PDB.

Di tengah proyeksi tersebut, S&P memperkirakan utang nasional akan tumbuh sebesar 2,9% dari produk domestik bruto (PDB) setiap tahunnya mulai tahun 2026 hingga 2029.

Dalam laporannya pada Senin (13/07/2026), S&P menyebutkan rasio bunga terhadap pendapatan bisa tetap di atas 15% pada 2026-2027, sebelum turun kembali di bawah 15% seiring pelonggaran suku bunga dan peningkatan pertumbuhan pendapatan.

Berdasarkan asumsi di atas, utang umum bersih pemerintah dapat meningkat menjadi 37,4% PDB pada akhir tahun 2029 dari 36,4% pada tahun 2024.

Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Myrdal Gunarto mengatakan keputusan S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil merupakan kabar baik dan pencapaian positif bagi pemerintah.

“Mengkhawatirkan, karena mereka justru mengkhawatirkan aspek kesehatan fiskal kita,” kata Myrdal Kontanu, Senin (13/07/2026).

Dia mengatakan penilaian S&P saat ini harus diterima sebagai bagian dari penilaian kondisi perekonomian di Indonesia. Menurutnya, jika ke depan perekonomian terbukti semakin kuat, pertumbuhan ekonomi meningkat, pendapatan per kapita meningkat, rasio fiskal tetap sehat, produktivitas pajak membaik, dan pemerintah mampu mengelola defisit fiskal dengan baik, maka S&P berpeluang memberikan rating yang lebih positif.

Ia juga meyakini bahwa prospek dan prospek peringkat Indonesia dapat membaik jika ketahanan perekonomian terhadap berbagai tekanan global juga semakin kuat.

Myrdal menambahkan, keputusan S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia bisa menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. Menurut dia, pasar obligasi pemerintah berpotensi bertahan dengan imbal hasil yang tetap menarik bagi investor meski meningkat.

Kondisi ini juga dinilai menjadi katalis positif bagi pasar obligasi dan mendorong aliran modal asing (aliran modal masuk) ke Indonesia. Lanjutnya dampak sentimen tersebut, lanjutnya, juga diperkirakan akan mendukung kinerja pasar saham dan rupee, selama tekanan global terus meningkat.

Lebih lanjut, Myrdal memperkirakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun masih berada di level 6,84% dengan prediksi defisit APBN tahun ini mencapai 2,9%.

Dengan proyeksi tersebut, skenario dampak perang Iran dan Israel tidak sebesar pada periode Maret hingga Juni.

Jadi kalaupun terjadi perang, Selat Hormuz tetap terbuka, harga minyak juga terjaga, tidak lagi mengalami lonjakan gila-gilaan seperti Maret hingga Juni lalu, jelasnya.

tagBisnis

Related Post

Scroll to Top