BisnisAds.com– JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) selama tahun 2026 diperkirakan akan membatasi laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, perekonomian Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh di atas 5% pada tahun ini.
Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Myrdal Gunarto memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan berada di kisaran 5,17%, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,22% saat BI rate masih di 5,50%.
“Prospek perekonomian Indonesia diperkirakan masih terjaga dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,17% pada tahun 2026 dan inflasi sebesar 3,09%,” kata Myrdal Kontanu, Jumat (19/06/2026).
Selain itu, inflasi diperkirakan masih berada dalam kisaran sasaran bank sentral. Myrdal memperkirakan tingkat inflasi tahun ini akan mencapai 3,09 persen, guna menjaga stabilitas harga sekaligus melakukan pengetatan kebijakan moneter.
Di sektor perbankan, Myrdal memperkirakan pertumbuhan intermediasi akan melambat seiring dengan kenaikan biaya dana dan suku bunga kredit. Diperkirakan pertumbuhan pinjaman perbankan akan berada di bawah 9% pada tahun ini.
Meski demikian, sejumlah sektor usaha dinilai masih memiliki prospek pembiayaan yang baik dan berpotensi mendukung pertumbuhan pinjaman perbankan.
Sektor-sektor tersebut meliputi ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, dan properti residensial.
Sementara itu, Kepala Ekonom BSI Banjaran Surya Indrastomo mengatakan dampak kenaikan suku bunga terutama akan dirasakan melalui peningkatan biaya dana, penyesuaian bunga kredit, serta sikap rumah tangga dan dunia usaha yang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan konsumsi dan investasi.
“Kenaikan BI rate sebesar 100 bps pada paruh pertama tahun 2026 berpotensi memoderasi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Banjaran.
Menurut dia, meski kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi mengekang aktivitas perekonomian, namun sejumlah faktor domestik masih bisa menopang pertumbuhan pada tahun ini.
Belanja rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah, dan kebijakan makroprudensial yang mendukung pertumbuhan dinilai membantu menjaga momentum perekonomian.
Dengan kondisi tersebut, Banjaran memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 kemungkinan akan tetap berada di kisaran 5%. Namun ruang pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya semakin terbatas.
“Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia belum mengalami perlambatan yang tajam, namun momentum pertumbuhannya cenderung lebih terkendali,” ujarnya.
Meski demikian, Banjaran mengingatkan, ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai ke depan. Risiko-risiko tersebut antara lain, jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama dari perkiraan, tekanan terhadap rupee tidak mereda, dan pertumbuhan kredit mulai melambat.
Menurut Banjaran, kombinasi faktor tersebut dapat berdampak negatif terhadap belanja pemerintah, investasi swasta, dan perluasan dunia usaha yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.